Lokasi lumpur yang tak jauh dari Kota Sidoarjo membuat tempat ini mudah dijangkau, apalagi berada ditengah jalur Sidoarjo ke Pasuruan dan Malang. Orang yang tak sabar menghadapi kemacetan Jalan raya Porong mungkin akan tertarik meminggirkan kendaraannya ke lokasi ini. Beristirahat sebentar dari super sibuknya jalanan.
Sebenarnya keadaan lumpur masih sama seperti dulu. Dari tanggul terlihat asap mengepul dikejauhan tempat lubang utama semburan muncul. Agak berbau seperti minyak. Tidak ada yang menarik sebagai obyek wisata. Tapi anehnya tempat kesedihanpun bisa menjadi tempat meraup uang. Menarik perhatian orang berarti punya nilai duit.
Begitu juga lumpur lapindo ini, setelah proses yang menyertainya sampai saat ini, bagaimana kejelasannya masyarakat tak begitu paham. Kolam lumpur itu sekarang milik siapa? Kalau sekarang menjadi obyek wisata yang berbayar bagi yang memasukinya, dananya masuk kemana? Ke masyarakat korban lumpur atau ke PT Lapindo? Tentu masyarakat perlu tahu uang hasil kutipan tersebut kemana termasuk pemda setempat, mungkin kena pajak dan sebagainya. Karena tak semestinya kesedihan menjadi komoditi untuk menghasilkan uang yang tak benar.
---------------------
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

No comments:
Post a Comment